Tahap Perkembangan Manusia Berdasarkan Psikologis
Psikologi
perkembangan adalah ilmu yang mengkaji pada tingkah laku pada individu dan
perkembangannya dan juga latar belakang yang mempengaruhinya. Ilmu atau kajian ini termasuk kajian khusus
karena mempelajari perkembangan manusia pada tingkah lakunya dari lahir sampai
tau dan mati.
Dalam
perkembangan psikologi pada manusia terbagi beberapa tahap :
1. Tahap
Bayi : Usia sejak lahir sampai usia 18 bulan.
Periode
ini disebut tahapan sensorik oral, karena pada tahap ini bayi lebih cenderung
pada penekanan visual dan sentuhan. Ini dikarenakan pada usia tersebut bayi
akan mempelajari sesuatu melalui penglihatan dan sentuhan seperti memasukan
benda apa saja yang dipegangnya ke dalam mulutnya. Peranan seorang ibu
sangatlah penting untuk menentukan tingkah laku si bayi untuk kedepannya,
karena orang yang paling dekat dengan si bayi adalah seorang ibu. Sosok Ibu memainkan peranan
terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak,
dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui
dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan
melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di
periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan
melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi.
2. Tahap Balita Awal : Usia 18 bulan sampai 3
tahun.
pada
tahap ini individu sudah mulai mengasa kemampuan motoriknya. Selain
mengembangkan kemampuan motoriknya, individu juga belajar tentang harga diri dan tumbuhnya pemahaman tentang
benar dan salah. Salah satu ketrampilan yang muncul di periode adalah kemampuan berkata TIDAK. Pada tahap ini
individu lebih ditekankan pada pengendalian diri, keberanian, dan kemauan.
3. Tahap Usia
Bermain: Usia 3 - 5 tahun.
Pada periode ini, individu
biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di sekitarnya dan secara
inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Anak laki-laki bermain dengan
kuda-kudaan dan senapan kayu, anak perempuan main “pasar-pasaran” atau boneka
yang mengimitasi kehidupan keluarga, mobil-mobilan, handphone mainan, tentara
mainan untuk bermain peran, dsb. Di masa ini, muncul sebuah kata yang sering
diucapkan seorang anak:”KENAPA?”. Sesuai dengan konsep Freudian, di masa ini anak (khususnya laki-laki)
juga sedang berjuang dalam identitas gender-nya yang disebut “oedipal
struggle”. Kita sering melihat anak laki-laki yang bermain dengan alat
kelaminnya, saling menunjukkan pada sesama anak laki-laki, atau bahkan
menunjukkan pada anak perempuan sebaya. Kegagalan melalui fase ini menimbulkan
perasaan bersalah. Hubungan yang signifikan di periode ini adalah dengan keluarga inti
(ayah, ibu, dan saudara).
4.
Tahap Usia Sekolah : Usia 6 – 12 tahun.
Periode ini sering disebut
juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya menunjukkan
pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti, berbeda dengan
fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan
perkembangan berbilang bulan saja untuk manusia agar bisa tumbuh dan
berkembang. Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada
sikap industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat,
kerajinan, dsb), serta berada di dalam konteks sosial. Bila individu gagal
menempatkan diri secara normal dalam konteks sosial, ia akan merasakan ketidak
mampuan dan rendah diri. Sekolah dan lingkungan sosial menjadi figur yang berperan penting dalam
pembentukan ego ini, sementara orang tua sekalipun masih penting namun bukan
lagi sebagai otoritas tunggal.
5. Tahap Remaja : Usia 12 – 18 tahun.
Bila sebelumnya
perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya, sejak
stage perkembangan ini perkembangan tergantung padaapa yang saya kerjakan.
Karena di periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi dewasa,
hidup berubah sangat kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya,
berjuang dalam interaksi sosial, dan bergulat dengan persoalan-persoalan moral. Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan
jati diri sebagai individu yang terpisah dari keularga asal dan menjadi bagian
dari lingkup sosial yang lebih luas. Bila stage ini tidak lancara diselesaikan,
orang akan mengalami kebingungan dan kekacauan peran. Hal utama yang perlu
dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat
idealis dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian.
Wajar bila di periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman.
6. Tahap Dewasa Awal : Usia 18 – 35 tahun.
Langkah awal menjadi dewasa
adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa
senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di
stage ini memberikan keintiman di level yang dalam. Kegagalan di level ini
menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa
sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk
pertahanan ego. Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7. Tahap Dewasa : 35 – 65 tahun.
Masa ini dianggap penting
karena dalam periode inilah individu cenderung penuh dengan pekerjaan yang
kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain
itu adalah masa “berwenang” yang diidamkan sejak lama. Tugas yang penting di
sini adalah mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga
(membentuk karakter anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan
timbul melalui perhatian orang lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada
kebaikan masyarakat, yang disebut dengan generativitas. Jadi di masa ini, kita
takut akan ketidak aktifan dan ketidak bermaknaan diri. Sementara itu, ketika
anak-anak mulai keluar dari rumah, hubungan interpersonal tujuan berubah, ada
kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna dan tujuan hidup
yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau
stagnasi.
Yang memainkan peranan di
sini adalh komunitas dan keluarga.
8. Tahap Dewasa Akhir : Usia 65 tahun keatas sampai mati.
Orang berusia lanjut yang
bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa
tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan
merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia
dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan. Sebaliknya, orang yang
menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa
menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia
merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang
dianutnyalah yang paling benar.
Refrensi
:
Comments
Post a Comment